|
05 February 2008 - 12:20:22
Beberapa bulan yang lalu setelah Fauzi Bowo terpilih menjadi gubernur DKI, Jakarta diguncang gempa yang cukup hebat. Di beberapa tempat, masyarakat terlihat panik. Terutama yang tinggal di gedung bertingkat. Bisa sampeyan bayangkan, berapa banyak hutan beton di kota ini. Kalau beton-beton itu retak terus roboh? Hmmm, ndak usah sampeyan bayangkan lagi apa yang selanjutnya terjadi. Saat itu saya bertanya, akan ada peristiwa apakah ini? Ahh itu hal biasa mas, fenomena alam saja. Katanya para ahli, jauh di bawah sana saat itu sedang terjadi pergeseran lempengan bumi. Sehingga terjadilah tumbukan yang mengakibatkan horeg. Pertanyaan sampeyan tumben gak ilmiah. Beberapa bulan kemudian terjadi longsor di Karanganyar. Puluhan orang meninggal tertimbun tanah. Kota yang terkenal akan keindahan Anthuriumnya itupun luluh lantak. Jerit tangis dan air mata kembali mengoyak naluri kemanusiaan. Tidak jauh dari Karanganyar, Bengawan Solo meluap, mengamuk, mementahkan air bah. Banjir bandangpun terjadi. Cakupannya dari Solo sampai Gresik, menenggelamkan berhektar-hektar sawah, rumah, jalan, dan infrastruktur lainnya. Daerah yang tenggelam merupakan penghasil beras Nasional. Wajar jika spontan muncul wacana bahwa bakal terjadi wabah kelaparan. Namun, hal ini segera dibantah. Persedian beras kita cukup bagus kok, katanya saat itu. Ahh, itu juga fenomena alam mas. Gimana ya, lha wong alas kita sudah dibabat habis-habisan. Hutannya gundul-gundul pacul. Kalau musim rendeng begini ya airnya langsung bablas, nggrowos ke bawah bawa tanah juga. Maka terjadilah longsor dan banjir seperti apa yang sampeyan gambarken itu. Mungkin memang suatu kebetulan. Setelah aneka peristiwa diatas, mantan presiden Soeharto masuk ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Berita ini menggegerkan jagad Nuswantoro. Aneka spekulasi muncul. Apakah pak Harto akan sembuh atau sebaliknya. Solo dekat dengan pak Harto. Astana Giribangun, makam keluarga pak Harto, terletak di kabupaten Karanganyar, sekitar 14 Km sebelah Timur Solo. Longsor di Karanganyar, banjir di Solo, sakitnya pak Harto, pertanda apa ini? Apakah hanya fenomena alam biasa ataukah ada perlambang lain, entahlah. Saat itu, perasaan saya jelek. Setelah dirawat selama 24 hari, akhirnya pak Harto menghembuskan nafas terakhirnya. Spekulasi tentang kondisi kesehatan beliaupun berakhir sudah. Sejak dirawat hingga wafatnya pak Harto, Jakarta tidak pernah diguyur hujan deras. Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Beberapa hari kemudian setelah pak Harto wafat, hujan deras baru mengguyur ibu kota. Hujan yang turun tiada henti sejak Kamis malam hingga Jumat Sore, menenggelamkan Jakarta. Aktivitas perekonomian lumpuh. Jakarta terapung. Gempa Jakarta - Longsor Karanganyar - Banjir Solo - sakitnya pak Harto - wafatnya pak Harto - Banjir lagi di Jakarta, tentu bukanlah suatu sebab akibat. Itu hasil ijtihad otak atek gathuk saya saja. Jika sampeyan lebih percaya dengan sains, percaya dengan hal-hal yang aneh seperti itu jelas akan sampeyan anggap takhayul, ndak logis dan ndak ilmiah. Apakah alam memberi tanda-tanda kepada kita tentang peristiwa besar tertentu yang akan, sedang dan telah terjadi, entahlah. Percaya ndak percaya, terserah sampeyan saja menyikapinya. Read original post at sasongko blog Post a comment
|
|