08 February 2008 - 02:12:00

Nulis nulis nulis..
Lama banget gw ga nulis drama kehidupan gw di blog ini. Banyak banget kerjaan yang memaksaku untuk selalu tampil ganteng.
Kegiatan sehari-hari gw tak lepas dari programming, menulis bahasa yang tak dimengerti manusia, tulisan yang tak seindah puisi. Sangat ironis, anarkis dan nggledis.

Tahun baru imlek adalah momen yang sangat indah buat gw, bukan karena imleknya tapi karena merah cerah di kalender begitu meronanya. Momen sakral bagi para narapidana kantor, saat yang tepat untuk nganggur dan tidur.
Tapi kayaknya gw ga nikmatin liburan dengan badan telentang, celana cingkrang, kaus kutang dan iler menggenang, di atas ranjang.
Kebetulan temen-temen ngajakin touring, kemana? Traraaa… Ke BROMO..
Namanya touring tentu bukan naik taksi, becak ato truk treiler. Nggak cool jeng. Nah biar dikira touring beneran kita rame-rame pake sepeda motor. Kurang lebih ada 10 motor siap ditunggang.

Start dari Kota Malang jam 5.30, cuaca hujan grimis. Perlahan-lahan motor gw mulai menggaruk aspal. Rute berangkat kita lewat Tumpang yang terkenal medannya tanjakan-tanjakan curam dan jalan licin, saking licinnya tiap kali ada suster lewat sini harus ngesot dulu. Disinilah awal mula terkenalnya suster ngesot. Demi menghemat waktu dan bensin, akhirnya kita libas juga jalan yang tak motorsiawi itu. Bener-bener offroad.
Kalo motor gw punya nyawa, pasti dia udah nuntut gw ke pengadilan dengan tuduhan pemaksaan kehendak..

Beberapa jam kemudian sebelum naik ke Bromo kita nyampe di Danau RanuPane yang bersebelahan dengan Danau RanuKumbolo. Mampir di sebuah rumah warga kampung sekitar, dengan biadab kita nyuruh itu orang pribumi masakin sarapan buat kita. Begitu makanan matang dan dipastikan tak ada racun, kami ber-15 pun segera mengeksekusi meja makan beramai-ramai. Terlihat dari jauh seperti adegan pemerkosaan. Sang pemilik rumah tak berani berkata-kata, tak berani mencegah kebrutalan Kelompok Pemerkosa Meja Makan Dari Malang (KPMMDM)
Merasa kenyang, KPMMDM segera meninggalkan rumah orang pribumi dengan meninggalkan pesangon yang pantas.

Berlanjut menuju puncak Bromo..
Hujan terus mengiringi putaran roda motor gw.

Tak selang lama, lautan pasir tampak bromo di depan mata. Tak ada pohon, tak ada rumah, tak ada pos polisi, tak ada lokalisasi, tak ada selain pasir. Tak ada juga cowok seganteng gw.

Akhirnya tiba juga di puncak bromo. Kali ini perjalanan harus berlanjut dengan sepasang kaki. Menaiki tanjakan-tanjakan, dan anak tangga yang bikin kaki di kepala, kepala di kaki. Itu kata Ariel Peterpan sahabat gw.

Menjelang tiba di puncak, para pendaki dikejutkan oleh semburan belerang yang bikin batuk dan sulit napas. Akhirnya pak Bas (ketua gank kita) maksa kita untuk turun.
Karena gw ga terima pengorbanan gw sia-sia, kurang 5 anak tangga. Gw lanjutin dulu ke atas, tak ada semenit kemudian gw turun lagi dengan air mata berlinang.
Sialnya lagi, gw kebelet ke WC. Lebih sialnya lagi, ujan deres. Lebih lebih sialnya lagi, di toilet aernya cuman dikit n ga bersih. Lebih lebih lebih sialnya lagi, atapnya bocor. Lebih lebih lebih lebih sialnya lagi, gw hampir ditinggal ama rombongan. Ahhh… sial.

Saatnya kita untuk pulang. Perjalanan kali ini begitu menantang dan menyenangkan. Lain kali kita jalan lagi ya bro..
Hidup pemerkosa motor !!!!

nih gw kasih foto gw, ini asli. Tolong jangan disebar ke infotainmen, pliz..

Read original post at Kang Parmind blog



Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: