02 March 2008 - 19:37:33

Pagi itu 21 Februari 2008, suasana batinku cukup tegang. Sms terakhir dari mbak mengabarkan ada enam orang yang bakal datang ke Jakarta. Mereka adalah Bapak, Ibu, Mbak sendiri, Pak Dhe dan istri, serta Bu Lek.

“Wah, mana muat apartemen kos ini buat menampung mereka” gumamku ndak karuan.

Segenap jiwa dan raga serta upaya harus dimaksimalkan segera dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Karena yang datang adalah tamu agung. Jadi wajib hukumnya untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kelas VVIP.

Akomodasi dan tetek bengeknya harus aku siapkan sebaik mungkin. Aku ndak mau mengecewakan mereka walau hanya setetes. Tamu harus dihormati dan dimuliakan, hal ini aku pelajari juga dari mereka.

Untungnya kamar sebelah apartemen kos sedang kosong. Aku segera ke rumah pak Haji untuk menyewa kamar tersebut. Alhamdulillah, urusan tempat tinggal sudah beres. Namun pikiran belum bisa plong 100 persen. Menunggu adalah kegiatan yang membuat harap-harap cemas.

Pagi itu 23 Februari 2008. Stasiun itu masih terlihat seperti delapan tahun yang lalu. Hanya sedikit perubahan yang nampak. Bangunan loket di depan stasiun dan lantai pemisah jalur 1-3 dengan jalur 4-6 yang dikeramik tidak aku lihat delapan tahun yang lalu. Kebersihan, kenyamanan dan keruwetannya masih sama. Sebuah potret fasilitas umum untuk kaum tipis duit di kota termaju di negeri ini. Jauh dari kemewahan.

“Aku dah nyampek Bekasi” sms dari mbak memberi kabar.

Aku dan penjaga kos, biasa aku panggil Pak Dhe bergegas menuju stasiun. Selain jaga kos, Pak Dhe ini juga tukang ojek. Rencananya aku akan membonceng bapak, Pak Dhe mebonceng Pak Dheku, sedangkan para ladys naik taksi saja.

Kok repot banget sih mas. Kenapa ndak nyewa dua taksi atau mobil saja sih.

Pikiran itu sempat terlintas. Namun, kalau sewa dua taksi, siapa yang akan menjadi penunjuk arah nantinya. Yang tahu lokasi apartemen kos kan cuma aku. Kalau satunya belok terus satunya lagi lurus bisa hilang entar orang satu taksi :). Maklum, orang di kota ini yang bisa dipercaya cuma sedikit :(. Sedangkan untuk sewa mobil kijang yang hanya Rp. 300 ribu kok sayang kalau cuma dipakai sak nyuk an tok.

Kembali ke stasiun. Jam menunjuk pukul 8:30. Kereta itu sudah tiba. Ribuan penumpang keluar dari terowongan bawah tanah itu. Kesemrawutan semakin menjadi. Penumpang yang letih setelah menempuh perjalanan > 12 jam dengan orang-orang stasiun yang ingin memanfaatkan suasana tuk mencari rezeki tumplek blek jadi satu.

Satu lagi cap jelek yang menempel. Orang tipis duit itu tidak bisa tertib. Menurut saya, cap seperti ini harus dilepas.

Penumpang sudah sepi. Tamu agung belum juga terlihat. Dimanakah mereka. “Halo mbak, sampean nang endi?” tanyaku cemas. “Aku nang jalur enam, gawane akeh, awakmu mlebuo ae” sahut suara diujung sana.

Bersama kecemasan yang ada, aku masuk ke terowongan itu. Jalur enam terletak paling ujung. Dari jauh aku lihat tamu agung. Segera kudekati mereka. Rasa letih dan capek nampak dari parasnya. Aku tidak kuat menatap wajah mereka. Ada cahaya yang kuat yang membuat mataku tertunduk.

Disamping mereka, barang bawaan banyak sekali dan berat. Maklum, tamu agung akan menjadi utusan agung. Sehingga upeti yang dibawa sangat melimpah. Aku panggil tukang panggul dua orang, tarifnya Rp. 20 ribu. Sampai di depan stasiun sepertinya planning yang tadi gak bisa dijalankan. Mana mungkin bawa tamu agung plus upeti yang segudang ini dengan dua motor dan satu taksi.

Di stasiun itu banyak orang menyewakan mobilnya. Setelah melalui proses tawar menawar yang cukup gampang akhirnya dengan uang Rp. 40 rb dapat mobil cary. Segera tamu agung dan aku masuk ke dalam mobil tersebut. Pak Dhe tukang ojek yang sudah lama menunggu di parkiran aku suruh pulang duluan. Entar balik lagi untuk mengambil motorku yang istirahat sebentar di parkiran stasiun.

Dua puluh menit perjalanan, Alhamdulillah semuanya sudah tiba di apartemen kos dengan hati riang dan gumbira.

Setibanya di kos para tamu agung bersantap bersama dengan nasi yang sudah aku sediakan. Setelah itu mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan stamina. Ba’da Dzuhur mereka akan menjadi utusan ke rumah si adek.

Read original post at sasongko blog



Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: