Setelah 1 minggu penuh aku bertugas di luar daerah, akhirnya aku pulang dengan mengendarai manuk emprit lagi. GA-311 meluncur pukul 10:00 am menuju cengkareng, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Sungguh… aku didera sakit yang luar biasa, menghujam ulu hati dan jantung hingga terkadang aku tidak terasa melamun beberapa saat.
Tahukah apakah penyakit itu ?
Mereka bilang itu adalah “Rindu”, “Kangen” seseorang yang juga merindukanku saat itu. Beberapa kali kirim sms dengan kata-kata yang sangat terasa hingga saat ini. “I miss you since yesterday. How can i wait till tomorrow ?”. Aku langsung diam tanpa kata-kata. Tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku diam… Aku akan datang sayangku, semoga nanti 4JJ1 mempertemukan kita di waktu yang sangat tepat dan saat-saat yang sangat indah.
Take off pukul 10:00 am tepat. Landing pukul 11:05 am. Tanpa bagasi yang aku masukkan, aku langsung melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Sebelum keluar dari bandara, beberapa orang menawarkan taksi ke aku. Ada juga mbak-mbak yang menawarkan taksi. Oh, mungkin SPG dari beberapa armada taksi pikirku.
“Taksi mas…”. “Oh… nggak Pak, terima kasih”. Terus menunju pintu keluar. Melenggang menuju arah kiri setelah keluar dari Pintu/Gate F bandara. Aku baca petunjuk yang ada tulisan “GAMBIR”. Oh … itu dia. Aku menuju tempat itu. “Gambir… gambir… gambir…”, teriak salah seorang petugas berbaju biru muda dengan celana biru tua yang berumur sekitar 50 tahun an. Kupercepat langkahku menuju bis itu. Akhirnya aku masuk dan meletakkan Travel Bag ku di tempat yang memang sudah disediakan untuk tas-tas yang tidak bisa dibawa ke tempat duduk. Sementara tas laptop yang aku jinjing tetap aku bawa.
Aku cek satu per satu tempat duduk yang kosong. Ada beberapa, tapi akhirnya aku memilih yang sebelah kiri dari tempat aku masuk, yaitu dari pintu depan. Aku memilih yang dekat dengan jalan, agar mudah jika turun dari Bis. Aku tidak turun di tempat pemberhentian terakhir, karena aku akan ke kantor dulu. Sudah tidak kuat untuk menatap wajah dan mata orang yang sedang merindukanku.
Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya Bis Damri sudah masuk ke daerah Jati Baru Tanah Abang. Bis belok ke kiri setelah sampai di perempatan dekat Hotel Milleniuim. Perempatan pertama setelah beok, Bis belok ke kanan arah budi kemuliaan. Aku bersiap-siap untuk turun. Aku berdiri dan mengambil Travel Bag ku. “Turun di depan ya Pak, perempatan depan, air mancur”. Tanpa berkata apa-apa sang sopir berhenti di tempat yang aku inginkan. Sambil mengucapkan “Terima kasih Pak !”, aku turun dari Bis dan berjalan beberapa puluh meter untuk masuk ke dalam kantor.
Masuk ke Lobby, duduk, pencet nomor telpon di HP, pencet tombol Call. Ah… padahal bukan ring back tone ini yang aku rindukan, lagu “Balonku” yang diaransmen ulang oleh Tompi yang aku inginkan.
“Assalaamu’alaykum…”, suara dari sana.
“Wa’alaykumsalaam… sayangku di mana ? sudah makan siang ?”
“Sudah… ini baru selesai… mas sudah makan ?”
“Belum, kirain belum makan, mas mau bareng, tapi telat ya”, sambil aku lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 12:45 pm. Oh, memang sudah jam segini, ya salah aku sendiri pikirku.
“Mas sekarang di mana ? di kantor ya, ade’ di kafe, ke sini aja”
“Ya udah, mas ke situ”
“Ok, ade’ tunggu di sini”
“Sip…”
Sambil menjinjing satu tas laptop dan “nggeret” 1 travel bag aku menuju kafe yang nempel satu gedung sama kantor. Di sana sudah menunggu sang bidadari dari Depok hehehe…
Karena saking kangennya, pertemuan waktu itu seperti pertemuan pertama kali pacaran, hehehe… enggak dink, terlalu di dramatisir
Ngobrol bentar, kebetulan dia bersama temennya Iin yang tidak asing lagi buatku, karena dulu pernah satu lantai. Pesan Soto Ayam + nasi, minumnya juz strawberry, jus kesukaanku.
Duduk di ruangan yang memang di design private/privacy untuk 6 orang. Tapi sepertinya saat itu ruangan hanya milik berdua qiqiqiqiqi…
Beberapa saat pesanan datang, dan dengan rasa kurang enak makan saat itu, aku masukkan semua nasi ke dalam mangkok soto. Karena kalau untuk aku pribadi, yang namanya makan soto itu ya nasinya dijadikan satu sama kuahnya, kalau enggak dicampur ya bukan makan soto, tapi makan nasi putih dicampur kuah. Ah… itu hanya perasaanku saja, kalau gak setuju ya… peace !!!
“Nanti sore mas ingin ngajak ade’ nyari sesuatu, jadi gak perlu ikut transco. Mau ?”
“Mau … Ke mana mas ?”
“Ya tergantung nanti, tapi yang pasti mas pengen beli sesuatu buat sayangku.”
“Bener ???”
“Iya… bener, masa’ bo’ong”
“Emang mau beliin apa ?”
“Sebenarnya mas pengen beli sesuatu itu waktu hari jadi ade’. Tapi berhubung saat itu gak diijinin ya mas gak jadi beli dech”, sambil menunjukkan wajah sedih di depannya.
“Hehehe… waktu ijin ke Margo itu ya. Kan boleh, tapi ade’ ikut. Mas nya gak mau”
“Lha gimana mau ? lha wong pengen ngasi’ kejutan alias surprise kok ngajak ade’, iya toh ?”
“Hehehe… ya udah. Emang mau beliin apa mas ?”
“Mas pengen beliin sayangku gelang, soalnya kalung sudah punya, cincin juga sudah. Mau nggak ?”
Sambil senyum mengembang dia bilang “Mauuuu… Nanti kita naik kereta aja, gimana ?”
“Boleh”
“Ya udah, ntar telpon si Agus biar naik ke atas, terus tas mas dititipin ke dia, sekalian kardus ade’ tadi yang isinya susu bantal buat anak-anak”
“Ok dech, sip. Ya udah, dah jam 13:30 nich, ade’ kan banyak kerjaan. Mas juga belum sholat. Ke atas yuk.”
“Yuk… “, dia menuju ke kasir untuk membayar makanan dan minuman.
Aku telpon Agus sang driver transco agar naik ke atas dari basement untuk meletakkan barang-barang yang cukup besar untuk dibawa pulang nanti sore.
“Gus, tolong nanti turunin tas and kardus ini ya, nanti biar orang rumah yang masukin ke dalam rumah.”
“Yes bos… “, jawab dia. Memang semua orang yang ikutan transco biasa dipanggil Bos.
“Thanks ya..”
“Sip…”
-berlanjutkejudul_HadiahUntukBidadariku-
Read original post at http://m-awang-j.blogspot.com/2008/06/hari-pertama-setelah-tugas.html