Archive for July 16th, 2008

July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by Admin on 16-07-2008


July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Sederhana, cocok untuk diletakan dekat tempat tidur. Bisa juga berfungsi sebagai meja rias. Sementara sebelahnya adalah ruang penyimpanan baju gantung dan rak baju, dengan desain pintu geser, membuat kesan sederhana semakin kentara.

Read original post at http://catura.wordpress.com/2008/07/16/minibar-ide-dari-kamar-hotel/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Sering banget denger kata musi, baik itu cerita bahkan sampai lagu sekalipun. akan tetapi tidak tahu secara langsung, seperti apakah Musi itu sendiri.
Suatu malam diakhir pekan, kesampaian juga mengunjungi Musi, terutama di jembatan Ampera. Menikmati makan malam di floating restoran, yang terletak disebelah barat jumbatan Ampera (sesuai perasaan, adanya di sebelah barat jembatan, faktanya belum […]

Read original post at http://catura.wordpress.com/2008/07/16/sungai-musi-palembang/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Direct Update Leopard dari 10.5.1/10.5.2 langsung ke 10.5.4 ternyata bisa… setelah mencoba 4 kali reinstall menggunakan metode NetKas.
Error yang muncul seringkali adalah seputar AppleAHCI:
13AppleAHCIPort is not compatible with its superclass. 10IOAHCIPort changed?
Failed to load extensions com.apple.AppleAHCIPort.
13AppleAHCIPort is not compatibel with its superclass. 10IOAHCIPort changed?
Failed to load extensions com.apple.AppleAHCIPort.
Solusi untuk itu adalah dengan me-restore AppleACPIPlatform.kext, AppleSMBIOS.kext, […]

Read original post at http://orakanggo.wordpress.com/2008/07/16/direct-update-10511052-ke-1054/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Yang ini pesenan mbak Rosalinda untuk acara di Rumah Yatim Kemang hari minggu lalu… Aku kirimnya pake kurir karna ada pertemuan ibu2 PKK di rumah mbak Ria Cinere, hahahaha…. Kita belajar foto2 bareng, nanti fotonya diupload deh….
Orderan ini mustinya juga pake tiers, tapi tiers lagi di rumah mbak Ade yang Cilandak karna dipake acara sabtu […]

Read original post at http://chefwannabe.wordpress.com/2008/07/16/cupcakes-with-little-flowers/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Jangan salah ya… mandi disini maksudnya bukan mandi pake air sama sabun alias ‘adus’. Mandi adalah makanan khas Arab. Model makanannya mirip biryani, nasinya dimasak pake cengkeh, kayu manis, safron dll, harum deh. Trus lauknya ada dua macam, ayam atau kambing. So pasti yang saya gemari Mandi Kambing alias Mandi Lahm lah. Porsi-nya besar banget, […]

Read original post at http://fahimi.org/?p=235



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by Admin on 16-07-2008

This is simple way to multiple ping from IOS command in one way, use tclsh. tclsh is IOS scripting like shell scripting in *nix machine. Just type your script in note text, paste it in your terminal console.

foreach IP {
192.168.0.1
192.168.1.1
192.168.2.1
192.168.3.1
} { “ping $IP” }

Router# tclsh
Router(tcl)#foreach IP {
+>192.168.0.1
+>192.168.1.1
+>192.168.2.1
+>192.168.3.1
+>} { “ping $IP”

Read original post at http://awanetwork.blogspot.com/2008/07/simple-tclsh-multiple-ping-from-ios.html



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Kembali ke leptop! {kalo kintan bilang leptop itu letok, kekeke, nggak jauh beda sama kalo dia bilang entog, wekekeke… }
Yang ini pesanan dari temenku STM dulu, Siska, yang baru aja kemaren merit sama temen STM ku juga, Satria. Memang kita2 yang mantan STM Telkom kena kutukan kok, whahaha, 90% nikahnya nikahnya sama satu almamater juga, […]

Read original post at http://chefwannabe.wordpress.com/2008/07/16/soft-color-tiramisu/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Terimakasih atas doanya, smoga panjang umur, dikaruniai hidup yang berkah dan bermanfaat buat keluarga dan banyak orang. Semoga aku bisa meyakinkan banyak orang juga bahwa nggak ada yang nggak mungkin asal kita mau berusaha dengan keras. Nggak usah takut sama cibiran orang dan nggak usah minder. Kekekeke, pagi2 khotbah niyeee, preet… :p
Kado paling berkesan tahun […]

Read original post at http://chefwannabe.wordpress.com/2008/07/16/thank-you/



July 16, 2008
Filed Under (Alumnus Blog) by on 16-07-2008

Sarapan pagi di Warung Tegal (Warteg) sebelah bengkel depan Bank Ekonomi. Menunya memang simpel, tapi cocok di lidah. Ada teri kecil, teri besar, tahu-jamur, ongseng kangkung, lodeh tahu, kripik tempe kering, udang ongseng kacang, dan tak lupa dadar telur lauk favoritku.

Bersama teman-teman yang lain kita sarapan sambil ngobrol. Kebetulan, salah seorang teman ada yang baru pulang dari training 2 minggu di India. Dia bercerita tentang kondisi negara asal pemimpin besar dunia, Mahatma Gandhi itu. Mulai dari soal kedisiplinan masyarakat India, adanya konvensi (hukum yang tidak tercatat, tapi dipatuhi bersama), pendidikan yang murah, komunitas muslim yang minoritas, India sebagai negara yang kumuh tapi serba high technology, televisi pendidikan yang serva Information Technology, nasionalisme tinggi, hukum dijunjung tinggi, hingga jadi polisi India yang tidak bisa disuap.

Banyak hal! Cerita oleh-oleh dari India itu -jika direfleksikan dengan negara kita; NKRI tercinta- memberikan inspirasi bagi penulis dalam hal penting, yakni soal biaya dan kesempatan dalam memilih hidup.

Di India, biaya pendidikan murah sehingga hampir semua rakyatnya mengenyam pendidikan, sementara di Indonesia pendidikan masih menjadi konsumsi yang mahal buat orang miskin. Di negeri ini, orang miskin tidak mungkin berani bisa menyentuh sekolah swasta. Mereka hanya sangat mungkin bisa menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri yang memang bebas SPP, tapi belum tentu bebas biaya-biaya buku dan adanya “pungutan liar” lainnya (semacam upeti dalam bentuk apapun; pada saat kenaikan kelas, pendaftaran siswa baru dsb -walaupun tidak semua sekolah negeri seperti itu).

Di sini, konsep sekolah negeri yang gratispun baru sebatas SD hingga SMP (bukan yang kategori unggulan), belum SMA. Belum termasuk di level peguruan tinggi. Kebijakan pemerintah dengan tidak ada subsidi untuk PTN, maka masing-masing PTN harus “mengurus” dirinya sendiri. Imbasnya, biaya pendidikan menjadi mahal. Anak pintar tapi keturunan orang miskin jika tidak mendapat beasiswa/PMDK atau semacam “wild-card” tentu sangat sulit untuk bisa mengenyam pendidikan yang baik. Jika PTN saja tidak tersentuh, lalu bagaimana dengan Peguruan Tinggi Swasta (PTS)? Tentu lebih tidak tersentuh lagi. Endingnya, orang miskin hanya bisa menyekolahkan anaknya maksimal SMA saja. Kalaupun bisa lebih, tentu jumlahnya tidak begitu menggembirakan.

Hal tersebut menjadi pertanda, pemerataan kesempatan mengenyam pendidikan hanya menjadi pepesan kosong, karena sesungguhnya kesempatan memilih hidup (dalam hal ini sekolah) hanya bisa dinikmati oleh orang berduit saja. Padahal, dengan konsep pendidikan yang murah dan gratis, rakyat akan semakin pandai. Jika rakyat pandai, maka dampaknya negara bisa menjadi lebih kuat. Penegakan hukum, disiplin, etos kerja tinggi, mengurangi jumlah pengangguran, menjadi negara yang tertib, jika tertib maka akan menjadi negara yang beradab, mencegah berkembangnya virus terorisme, tingkat pendapatan per kapita bisa naik, taraf ekonomi rakyatpun bisa ikut meningkat.

Dalam konteks olahraga. Dengan penduduk kurang-lebih 220 juta jiwa, hingga sekarang kita masih kesulitan menyusun 11 pemain timnas sepakbola yang handal. Sulit memilih bukan seperti yang dialami Dunga, Pelatih Brasil yang bingung karena di Brasil banyak pemain bagus, tapi sebaliknya; Indonesia minim pemain berkualitas. Uniknya, kita bingung memilih pemain bagus, tapi tidak bingung ketika memilih Ketua Umum PSSI yang akhirnya dipenjara (dibui).

Kenapa demikian? Karena di Indonesia kompetisi sepakbola tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua maunya serba instan. Event kompetisi diadakan dengan “menodong” sponsor, bukan berasal dari sistem yang direncanakan secara matang (bottom-up or top-down system). Hal lain, sepakbola ternyata juga ada sekolahnya. SSB (Sekolah Sepak Bola) namanya. Dan ini juga harus bayar. Hanya orang punya duit yang bisa menyekolahkan anaknya untuk bisa bermain bola.

Kalau kita tengok di Brasil, anak-anak dengan bebas bermain sepakbola di jalanan. Klub-klub sepakbola tinggal memantau dan mengambil mereka yang berbakat untuk kemudian dilatih secara resmi oleh klub. Jika mereka jadi, maka keuntungan besar akan diraih oleh klub-klub itu. Mereka akan dijual ke klub-klub besar. Ronaldo, Ronaldinho adalah contoh pesepakbola dunia hebat yang berasal dari keluarga miskin. Anak-anak miskin itulah yang selama ini menggemparkan jagat sepakbola dengan transfer jutaan Euro.

Begitupun untuk olahraga yang lain. Bulu tangkis, bola basket, bola voli dan lainnya. Semua harus bayar karena nyaris tidak ada klub yang dibuat untuk gratisan (kecuali Petrokimia Gresik di era kejayaan voli-nya di tahun 80-an). Lihatlah pemain basket dan bulu tangkis timnas kita, yang dominan justru warga keturunan. Sangat sedikit sekali yang kulitnya coklat/hitam. Ini bukan bicara soal SARA, tapi ini bicara masalah kesempatan. Hal ini menandakan bahwa olahraga yang di Indonesia ini sudah dianggap memasyarakat sekalipun, ternyata hanya bisa dinikmati orang-orang yang berduit saja.

Anak orang miskin yang memiliki bakat voli, basket, badminton sejak kecil, di masa muda dan tuanya hanya bisa sebatas buat tingkat 17-an belaka, karena untuk bisa masuk klub mereka tak punya biaya. Dampaknya seperti problem di atas; mencari 11 pemain timnas sepakbola saja kita sebagai negara (kepulauan) besar sudah gagal. Jika uang sudah bicara, maka hanya orang kaya yang bisa. Jika uang sudah bicara, maka jangan harap kualitas pendidikan merata. Jika pemerataan pendidikan dan olahraga saja pemerintah sudah gagal membuat policy, bagaimana dengan konsep mengatur pemerintahan?

Dalam hal ini, (tidak perlu malu) belajarlah dari India!

Warteg Pengkolan WB-1, 16 July 2008, 10:00 WIB.
(c) aGusJohn al-Lamongany

Read original post at http://pambayuns-father.blogspot.com/2008/07/113-belajar-dari-india-1.html